Lewati ke konten
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Banjir Nepal-Tibet Tewaskan 469 Orang, Runtuhan Gletser Diduga Jadi Pemicu

NEPAL – Banjir dan aliran lumpur dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/08), menewaskan sedikitnya 469 orang. Sekitar 910 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk sekitar 517 wisatawan asing.

Di Gyirong, China, sebanyak 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, juga belum diketahui keberadaannya, menurut stasiun televisi pemerintah China, CCTV.

Keshav Prasad Baral, 68 tahun, menjadi salah satu korban selamat. Saat bencana datang, ia sedang berada di rumah bersama istrinya.

“Lumpur dalam jumlah sangat besar tiba-tiba menerjang langsung ke arah kami,” ujar Baral yang kini dirawat di sebuah rumah sakit kecil di Nepal.

Ketika lumpur menerobos rumahnya, Baral berusaha meraih tangan istrinya. Namun, istrinya “terseret arus”.

“Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur,” katanya. “Dia sudah tiada.”

 

Banjir bandang dahsyat telah menyebabkan kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur.

Pemerintah Nepal awalnya menduga gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 di dekat perbatasan menjadi pemicu bencana. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan aktivitas seismik yang terdeteksi ternyata berasal dari runtuhan gletser yang kemudian memicu aliran material longsoran besar.

Temuan tersebut sejalan dengan pengamatan pejabat Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal. Dari sejumlah gambar yang diperiksa, terlihat massa es dalam jumlah besar, kemungkinan berasal dari gletser, runtuh dari lereng gunung di sisi Tibet.

Es kemudian meluncur bersama batu dan sedimen menuju wilayah hilir dengan kekuatan besar.

Salah satu dugaan menyebut material longsoran sempat menyumbat Sungai Lhende dan membentuk bendungan alami. Air kemudian menumpuk sebelum bendungan tersebut jebol dan mengirimkan gelombang besar air serta material ke wilayah hilir.

Namun, bukti mengenai terbentuknya bendungan alami itu masih terbatas.

Basanta Raj Adhikari, pakar kajian bencana Universitas Tribhuvan, mengatakan tidak terdapat laporan mengenai penurunan debit atau ketinggian Sungai Lhende sebelum banjir tiba. Padahal, kondisi tersebut biasanya terjadi apabila sungai sempat terbendung di hulu.

Menurut Adhikari, banjir bandang bisa terjadi secara langsung akibat longsoran es dan batu yang dipicu runtuhnya gletser.

Ia juga memperingatkan kemungkinan munculnya “gelombang bahaya kedua dan ketiga”.

“Kita masih belum tahu,” ujarnya.

Adhikari mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan rekan-rekannya di China yang memantau perkembangan situasi.

“Saat ini tidak ada hujan deras, tetapi longsor masih bisa terjadi,” cetusnya.

Sejumlah ahli glasiologi menilai temuan terbaru membuat kemungkinan banjir akibat jebolnya danau gletser atau glacial lake outburst flood (GLOF) sebagai penyebab utama semakin kecil.

Penyebab pasti runtuhnya gletser belum diketahui. Namun, perubahan iklim diduga turut meningkatkan ketidakstabilan kawasan pegunungan tinggi.

Simon Cook, ahli glasiologi University of Dundee, Skotlandia, mengatakan kejadian serupa dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi di Himalaya, Swiss, dan Pegunungan Dolomites di Italia.

Pemanasan global diperkirakan mempercepat pencairan permafrost, lapisan tanah beku yang membantu menjaga kestabilan lereng gunung. Ketika lapisan tersebut mengalami degradasi, risiko longsor, runtuhan gletser, aliran material, dan banjir meningkat.

Adhikari juga menilai dampak perubahan iklim semakin terlihat.

“Kita memang mengamati perubahan-perubahan ini, tetapi kita tidak tahu bahwa kejadian seperti ini akan terjadi pada hari tertentu,” ujarnya.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 2023 Nepal telah kehilangan hampir sepertiga volume esnya dalam tiga dekade sebelumnya. Pada periode 2011-2020, gletser di negara tersebut mencair 65% lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.

Kawasan perbatasan Nepal-China merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap bencana karena memiliki gunung-gunung tinggi, gletser luas, hamparan salju, serta lereng terjal dan tidak stabil.

Sungai yang berhulu di Dataran Tinggi Tibet juga mengalir cepat melalui lembah-lembah dalam menuju kawasan berpenduduk di Nepal.

Kondisi tersebut dapat menciptakan bencana berantai, ketika satu kejadian alam memicu kejadian lainnya. Runtuhan gletser atau longsor, misalnya, dapat menyumbat sungai dan membentuk bendungan alami. Jika bendungan itu jebol, banjir besar dapat menerjang wilayah hilir.

Risiko semakin tinggi selama musim monsun karena hujan deras dapat memperlemah lereng sekaligus berinteraksi dengan gletser, salju dan sistem sungai.

Para ahli menilai bencana seperti longsor dan runtuhnya gletser tidak dapat sepenuhnya dicegah. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui sistem peringatan dini, pemetaan kawasan rawan, relokasi permukiman berisiko, serta penguatan pertukaran informasi lintas negara.

“Jika kejadian tersebut bermula di Nepal, kami mungkin bisa melihatnya dari sini. Namun, dalam kejadian seperti ini, sistem berbagi informasi antarnegara perlu diperkuat,” kata Adhikari.

Ia menilai mekanisme pertukaran informasi lintas batas yang ada saat ini belum cukup menghadapi bencana yang berkembang sangat cepat.

Dalam jangka panjang, pengurangan paparan masyarakat terhadap kawasan berisiko dinilai menjadi salah satu langkah paling efektif.

“Permukiman di bantaran sungai juga dapat direlokasi dengan terlebih dahulu mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berisiko tinggi,” kata Thakuri.