BANYUASIN – Penemuan dua kerangka manusia di sebuah rumah kosong di Perumahan Amanah, Kelurahan Keramat Raya, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Minggu (6/9/2026), membuka kembali misteri hilangnya kakak beradik Rani (18) dan Ayuhana (13) yang tak terpecahkan selama hampir lima tahun.
Keduanya dilaporkan hilang sejak 27 Oktober 2021. Penyelidikan polisi kemudian mengarah kepada RS alias Rendi (27), kekasih Rani, serta rekannya Andika (25). Dalam waktu sekitar enam jam setelah kerangka ditemukan, keduanya berhasil diamankan.
Jejak dari Sepeda Motor ke Rumah Kosong
Kasus ini terungkap ketika Rohani alias Otong mencari kayu di sekitar Perumahan Amanah. Ia menemukan rangka sepeda motor di dalam parit dan melaporkannya kepada Ketua RT setempat, Heri Fauzi.
Pemeriksaan kemudian dilakukan pada sebuah rumah kosong yang berjarak sekitar 10 meter dari lokasi sepeda motor. Di tempat itulah ditemukan kerangka manusia dalam kondisi tulang-belulang.
Polisi langsung mengamankan lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi dan mengumpulkan barang bukti. Sejumlah barang pribadi yang diduga milik korban turut ditemukan, antara lain tas berisi buku sekolah, pakaian, jilbab, sepatu, kalung, gelang tangan dan dua cincin.
Kapolres Banyuasin AKBP Risnan Aldino melalui jajaran kepolisian menyatakan penyelidikan langsung dilakukan setelah laporan penemuan kerangka diterima.
“Begitu menerima informasi penemuan kerangka manusia, personel langsung bergerak melakukan pengamanan TKP, pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, dan penyelidikan. Dua orang yang diduga terlibat berhasil diamankan dalam waktu sekitar enam jam,” ujar pihak kepolisian.
Rendi ditangkap di wilayah Kenten, sedangkan Andika diamankan di kawasan Sei Sedapat, Kecamatan Talang Kelapa. Polisi kemudian mendalami keterlibatan keduanya dalam kematian Rani dan Ayuhana.
Dugaan Motif Berawal dari Hubungan yang Tak Direstui
Penyelidikan polisi mengungkap dugaan motif pembunuhan berkaitan dengan hubungan asmara Rendi dan Rani yang tidak mendapat restu keluarga.
Menurut keterangan kepolisian, Rendi diduga menyimpan sakit hati akibat penolakan tersebut. Perasaan itu kemudian berkembang menjadi rencana untuk menghabisi Rani.
“Motif pembunuhan berdasarkan penyelidikan adalah rasa sakit hati pelaku utama RS karena tidak direstui menikah dengan korban Rani,” demikian keterangan kepolisian dalam konferensi pers, Senin (7/9/2026).
Polisi menyebut rencana tersebut tidak hanya menewaskan Rani, tetapi juga adiknya, Ayuhana. Dalam penyelidikan, Rendi dan Andika diduga telah menyiapkan dua bilah pisau sebelum menuju rumah kosong yang menjadi lokasi kejadian.
Penyidik masih mendalami bagaimana pembagian peran kedua tersangka serta rangkaian kejadian yang menyebabkan dua kakak beradik tersebut meninggal dunia.
Lima Tahun Berada di Lingkaran Keluarga
Satu bagian paling mencolok dalam kasus ini adalah posisi Rendi di tengah keluarga korban. Ia bukan orang asing, melainkan kekasih Rani yang disebut kerap datang ke rumah dan dikenal keluarga.
Setelah Rani dan Ayuhana menghilang, Rendi bahkan disebut ikut membantu pencarian. Ia juga menghadiri Yasinan yang digelar keluarga tak lama setelah kedua korban dinyatakan hilang.
Ibunda korban, Helmi Nursidah (50), mengatakan keluarga sebenarnya sudah menaruh kecurigaan terhadap Rendi sejak awal.
“Rendi sempat kami cecar pertanyaan saat pengajian. Dia bahkan berani bersumpah tidak terlibat,” kata Helmi.
Namun selama bertahun-tahun tidak ada bukti yang cukup untuk menjawab kecurigaan tersebut. Harapan keluarga tetap sama: Rani dan Ayuhana ditemukan dalam keadaan selamat.
Penemuan kerangka pada September 2026 mengubah semuanya.
“Kami sudah curiga sejak awal, tapi tetap berharap anak-anak kami ditemukan selamat. Ternyata pelakunya orang yang paling dekat dengan keluarga,” ujar Helmi.
Penemuan Kerangka Mengakhiri Sandiwara
Selama hampir lima tahun setelah kedua korban menghilang, kehidupan Rendi disebut tetap berjalan seperti biasa. Ia tetap berada di lingkungan masyarakat tanpa membuat dugaan keterlibatannya terungkap.
Sandiwara itu baru runtuh setelah sepeda motor dan kerangka ditemukan di sekitar rumah kosong. Jejak tersebut membawa penyelidikan kembali kepada orang-orang yang diketahui memiliki hubungan dengan korban sebelum mereka menghilang.
Bagi keluarga, penangkapan Rendi bukan sekadar jawaban atas pencarian panjang, tetapi juga membuka dugaan pengkhianatan dari seseorang yang selama ini mereka kenal dekat.
Pertemuan keluarga dengan Rendi setelah penangkapan pun berlangsung emosional. Helmi mengaku syok ketika mengetahui orang yang selama ini dicurigainya justru ditetapkan sebagai salah satu tersangka.
“Semalam pas ketemu langsung, dak sadar lagi saya, kepengin ngantam (memukul). Geram sekali karena dia yang dipercaya, tidak menyangka sama sekali,” ungkap Helmi.
Keluarga meminta aparat menjatuhkan hukuman maksimal kepada pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kematian Rani dan Ayuhana.
Sementara itu, kedua tersangka diproses atas dugaan pembunuhan berencana atau pembunuhan sebagaimana ketentuan yang disangkakan penyidik. Proses hukum masih berjalan untuk mengurai secara lengkap perencanaan, pembagian peran serta rangkaian kejadian yang selama hampir lima tahun tersembunyi di balik laporan hilangnya dua kakak beradik tersebut.