PANGKALPINANG – Kabut asap mulai membayang di sejumlah wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Selain berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal, asap juga berpotensi terbawa dari Sumatera dan Kalimantan seiring perubahan arah angin pada September 2026.
Plt Kepala Harian BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan berdasarkan prediksi BMKG arah angin mulai berubah dari selatan menuju barat sehingga membuka peluang masuknya asap dari wilayah lain.
“Sesuai dengan prediksi BMKG bahwa pada bulan September ini, arah angin sudah mulai berubah. Dari arah selatan berubah ke barat sehingga ada potensi asap masuk ke Babel,” kata Agus, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, lapisan asap yang masuk sejauh ini masih relatif tipis. Namun kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah daerah.
“Artinya, asap tidak tebal sudah mulai ada, imbas dari Sumatera ke arah Bangka Belitung,” ujarnya.
259 Titik Kebakaran Dilaporkan di Babel
BPBD Babel mencatat sebanyak 259 titik kebakaran dilaporkan dari kabupaten dan kota pada Rabu (2/9/2026). Meski jumlahnya cukup banyak, kondisi karhutla sejauh ini dinilai masih terkendali karena sejumlah titik api dapat segera ditangani.
“Informasi kemarin yang kita dapat ada 259 titik terlapor dari kabupaten/kota di web kita. Kebakaran di Bangka Belitung,” kata Agus.
BPBD tetap meningkatkan kesiapsiagaan karena kebakaran dapat muncul secara bersamaan dalam jumlah besar. Penggunaan peralatan pemadam secara terus-menerus juga berpotensi menimbulkan kerusakan sehingga kesiapan armada harus terus dijaga.
Kabut Tipis Mulai Terlihat di Belitung
Di Pulau Belitung, kabut asap tipis mulai terlihat di sekitar Tanjungpandan dan sejumlah wilayah Belitung Timur. Kepala Pelaksana BPBD Belitung Timur, Robby Yanuar, mengatakan sebagian asap diperkirakan terbawa dari karhutla di Kalimantan.
“Sebenarnya dalam beberapa hari terakhir memang terjadi asap yang masih tipis. Itu diperkirakan dari bawaan karhutla yang terjadi di Kalimantan,” katanya.
Kabut asap dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan dan jarak pandang, termasuk keselamatan transportasi darat dan penerbangan.
Di sisi lain, Belitung Timur juga masih menghadapi karhutla lokal. Hingga Kamis (3/9/2026), BPBD mencatat 242 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 449 hektare.
Kebakaran antara lain terjadi di Desa Padang, Kecamatan Manggar, serta Selinsing, Batu Penyu dan Lenggang di Kecamatan Gantung. Meski demikian, kemunculan titik api baru mulai melandai dibandingkan pekan sebelumnya.
155 Hotspot Terdeteksi di Bangka Belitung
Data BMKG menunjukkan sebanyak 155 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang terdeteksi di Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 36 titik berada di Pulau Belitung, terdiri dari 22 hotspot di Belitung Timur dan 14 titik di Kabupaten Belitung.
Di Belitung Timur, hotspot tersebar di Kelapa Kampit sebanyak 14 titik, Simpang Renggiang empat titik, Damar tiga titik dan Simpang Pesak satu titik. Sementara di Kabupaten Belitung, sembilan titik terdeteksi di Sijuk, tiga di Badau serta masing-masing satu di Membalong dan Tanjungpandan.
Forecaster Stasiun Meteorologi H AS Hanandjoeddin, Ariel, mengatakan lapisan asap tipis di Pulau Belitung juga dipengaruhi aktivitas karhutla lokal.
“Menurut data dan analisa BMKG Belitung, munculnya lapisan asap tipis di kawasan Pulau Belitung berasal dari aktivitas karhutla lokal di wilayah tersebut,” katanya.
Warga Diminta Tidak Membakar Lahan
Ancaman kabut asap masih perlu diwaspadai karena musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga November 2026. Karhutla di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan juga masih berpotensi memengaruhi kualitas udara di Bangka Belitung apabila arah angin mendukung penyebaran asap.
BPBD dan BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar lahan maupun sampah. Pencegahan dinilai penting untuk menekan munculnya titik api baru sekaligus mengurangi risiko penebalan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan jarak pandang.

